Sabtu, 15 Maret 2014

Don't Go | One Night Dream (Chapter 1)

Title: Don't Go | One Night dream
Leight: multi chapter
Main Cast: BaekYeol, ChanBaek Couple
Genre: hhmmm...... Temukan sendiri ajaa. karna cerita ini belum di planing dan keluar gitu aja saaat nulis ^^
Author: @anisarista

AUTHOR CUAP CUAP....
Haiii haaiii.... Ini ff kedua gue, hmm bisa dibilang pertama sihh karna ff yang paling pertama /? ketauan sama otru dan ga diizinin buat dilanjut dehh xD. Engga tau kenapa suka bbuuuaannggeettt sama lagu EXO yang Don't Go, apa lagi yang Korean version. Beehhh suara Baekhyun bikin melted dibagian dianya yang teriak /?
Akan diusaha kan ff ini mirip sama lagu Don't Go karna emang niatnya mau ngikutin jalan cerita lagu ini walaupun ada yang sedikit di karang. Kalo melenceng dari makna lagu aslinya maklumin aja yaa karna gue masi pemula kakaaa ;;)
Okedehh langsung baca aja dari pada dengerin gue ngoceh melee aus nanti. Jangan lupa comment kalo mau comment ;)

Disclaimer: sesungguhnya semua cast yang ada itu punya gue/? engga engga, mereka punya Tuhan, orng tua mereka, dan mereka sendiri. ini cerita asli dari otak gue dah dibantu dengan lagu Don't Go. kalo ada kemiripan dan sebagainya itu cuma sebuah ketidak sengajaan :b.

WARNING: this story about boyxboy. Kalo geli gausah baca. Cast out of the real character. And TYPO everywheree~
happy reading guyss....

^^One Night Dream^^

*Author pov*

Malam itu langit yang begitu kelabu memeluk bumi dengan sangat dinginnya, ditambah lagi dengan air yang berlomba untuk mencapai tanah seperti tidak mau kalah satu sama lain.

Dengan ditemani lampu yang indah menghiasi tengah kota yang tidak pernah sepi setiap harinya, terlihat seorang pria jangkung menginjakkan aspal yang menjadi kolam renang bagi makhluk kecil di bumi untuk mencapai tujuannya........... Yaitu Rumah.

5 menit sudah pria jangkung itu mengijankkan aspal yang mengantarnya hingga sampai yang Ia tuju.
Tidak telalu mewah atau pun terlalu kumuh, apartemen yang selama ini Ia tempati adalah pemberian dari Eomma dan Appanya untuk melanjutkan sekolahnya di salah satu Universitas yang lumayan terkenal di Korea. Ia telah sampai di rumahnya.

Sudah hampir menginjak 3 tahun pria jangkung ini hidup mandiri tanpa seorangpun yang menanti kepulangannya saat sampai rumahnya.
.
.
.
.
.
.

Disentuhnya knop pintu yang bertuliskan angka 05 itu dan mendorongnya kearah dalam setelah memutarkan sebuah benda yang terbuat dari besi pada ganggang pintu itu.

Terpampanglah apartemen atau biasa disebut dengan rumah yang tidak terawat ini akan sangat cocok bila dimasukkan dalam nominasi sebagai Most Dirty Room karna memang sama sekali tidak diuruskan oleh penghuninya yang selalu berangkat pagi dan pulang malam demi ingin membanggakan orang tuanya melihat anak kembanggaannya lulus dengan nilai yang memuaskan.

*skip*

Setelah selesai berbenah diri dari yang hujan telah berikan kepadanya malam ini sehingga membuatnya berkuyup ria, pria jangkung itu membuka knop pintu kamarnya dan menuju dapur untuk membuat menu makanan yang akan Ia santap malam ini.

Ramyun. Yaa, benar, tiada hari tanpa ramyun. Hampir setiap hari atau lebih tepatnya setiap hari dimalam hari pria itu mengkonsumsi ramyun untuk menenangkan lambungnya yang meronta-ronta kelaparan karna pemenurutnya makanan inilah yang paling praktis dibuat.

Sepeti kesehariannya yang monoton, pria jangkung itu membuang bungkus bekas ramyun yang yang Ia buat pada tempat sampah yang telah menggunung isinya setelah selesai merebusnya.

Ia membawa mangkuk berisi ramyun yang telah Ia buat tadi ke meja makannya yang mungil dan segera memakannya.
Kurang dari 3 menit ramyunnya ludes seketika. Entah karna pria jangkung itu kelaparan atau memang style makannya yang cepat, makanannya bisa habis dalam waktu yang sangat singkat.

Walaupun terlihat seperti bad guy karna malas merawat rumahnya sendiri, pria itu bisa dibilang cukup rajin. Setelah makannya habis, langsung Ia cuci hingga mengkilat mangkuk yang Ia pergunakan. Mungkin difikirnya lebih baik lelah sedikit untuk mencuci piring dalam jumlah yang tidak banyak ketimbang bermalas-malas dahulu lalu merasakan betapa lelahnya mencuci piringnya yang sudah menumpuk.

Setelah selesai dengan pekerjaannya mencuci piring, dilihatnya jam dinding yang berada di dapurnya. Ternyata waktu sudah menunjukan pukul 9.13 PM KST.
Hal yang nyaman langsung terpintas di otaknya. Bersantai-santai diatas springbed dan membungkus tubuhnya menggunakan selimut yang begitu hangat sangat lah pas bila dilakukan pada saat cuaca seperti ini.

Tanpa berfikir apa lagi yang harus dia lakukan setelah kegiatannya mencuci piring, Ia langsung berjalan menuju kamarnya dan merebahkan badannya pada kasurnya yang tidak terlalu besar ukurannya namun sangat empuk dan nyaman.

Lampu dimatikan oleh Chanyeol dan mulai memasuki alam bawah sadarnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

*Chanyeol pov*

{layaknya kehidupan nyata}

/KRRIIINNNNGGG/

/KRRIIINNNNGGG/

/KRRIIINNNNGGG/

Suara yang begitu gaduh masuk pada indra pendengaran ku yang mungkin saja bisa membuat dia tidak berfungsi lagi.

Kududukan dengan malasnya tubuh ini dengan selimut yang masih membungkus sebagian tubuhku.

"Sepertinya baru saja tidur. Mengapa hari ini pagi datang cepat sekali? Menggangu kenikmatan orang saja!"

Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, aku berdiri dan berjalan menuju kamar mandi mempersiapkan diri untuk pergi kekampus demi menimba sebuah toeri baru yang belum ku ketahui.

Setelah rapih, aku menuju dapur dan membuat menu sarapan pagi untuk mengisi perut yang kosong ini.

Se-simple-simplenya aku membuat hidup ini, tidak ramyun juga aku gunakan untuk sarapan. Karna aku manusia terpelajar, aku juga mengetahui ramyun kurang sehat untuk tubuh bila dikonsumsi terus-menerus, apalagi bila dikonsumsi untuk sarapan pagi. Bisa-bisa hari-hariku di kampus hanya terisi dengan rintihan merasakan perut yang sakit. Rrrrrr~ menyeramkan. Aku lebih memilih roti panggang polos dan segelas susu untuk setiap paginya aku konsumsi. Tidak menggunakan toping apa-apa karna menurutku rasanya tidak jauh berbeda, hanya jauh berbeda dengan harga yang diperoleh.
.
.
.
.
.

#Jeogeuman nalgaetjit neol hyanghan ikkeullim naege ttaraora sonjitan geot gataseo#

Sesampainya dikampus, aku lebih memilih mendengarkan musik kesukaanku bergenre pop-rock dengan volume keras menggukan headphoneku di taman yang kampusku miliki. Dibawah pohon yang rindang ditemani angin yang begitu lembutnya memainkan anak rambutku begitu tenang rasanya. Sedikit bersantai untuk menunggu jam kuliah yang akan di mulai pada pukul 10.00 AM KST.

/menengok jam tangan hitam yang melingkar ditangan kirinya dengan indah/

Waktu masih menunjukan pukul 8.45 AM KST. Ada waktu sekitar  sejam untuk bersantai di sini.
Aku memilih datang lebih awal karna menurutku menghabiskan waktu diluar lebih indah dari pada memandangi televisi dengan berbagai acara yang disuguhkan. Bisa dibilang kehidupanku pada saat di dalam dan di luar rumah hampir berbeda 360 derajat. Tidak tahu mengapa pribadiku saat dirumah terlihat lebih murung, sedangkan diluar rumah aku disebut sebagai Happy Virus karna sering menyebarkan kebahagian pada orang lain.

*setengah jam berlalu*

Kupejamkan mataku menikmati hembusan udara yang bergerak menabrak halus pori-pori ku. Begitu sejuk udara pagi hari ini.

#Walcheucheoreom sappunhi anja neneul ttel su eobseo#

Disela menikmati segarnya udara pagi, mataku terbuka halus dan tiba-tiba tebelak lebar layaknya meliat emas dengan berat 10 ton jatuh dari langit. Entah mengapa lagu yang kuputar tidak terdengar oleh panca indra pendengarku, dan pandanganku hanya tertuju pada seorang najma yang sedang duduk membelakangiku.

#Neoneun ppomnae uahan jatae. O! Nan myeot beonigo banhago#

Tengkuknya yang indah, kulitnya yang terlihat seperti susu, badannya yang mungil, rambutnya borgoyang seiring dengan nada angin yang berhembus. Terlihat sepurna seperti malaikat yang dikirimkan oleh Tuhan untuk menjaga kedamaian bumi ini mengenakan kemeja polos dan jeans serba putih.

‘Nugu?’ hanya satu pertanyaan yang terlontarkan dalam hati dan selalu teulang oleh fikiranku.

#Siseoni jayeonseure georeummada neol ttaragajanha#

Dia bergerak pergi..........

‘Eotteokhae?!’

Haruskah aku mengikutinya?

Aku belum sempat menanyakan namanya. Mengingat aku belum pernah melihatnya berkeliaran dikampus ini, jangan kan namanya, parasnya seperti apa pun aku tidak mengetahuinya.

Dengan reflek aku bangkit mengikuti langkah namja malaikat itu tempuh.

Tidak memikirkan dan memperhatikan keadaan setempat, tanpa menge-check apakah ada barang yang tertinggal atau tidak, mataku hanya tertuju pada satu objek dan tidak akan ku lepaskan pandanganku demi namja malaikat itu tetap berada pada jangkauan panca indraku.

Langkahku semakin cepat mengejar namja malaikat itu, hingga akhirnya kurang dari 10 meter tempat kamu mengikkan diri satu sama lain.

“Chankkaman!!” ku ulurkan tangan kananku untuk meraik namja malaikat itu sembari berlari ringan memintanya untuk berhenti.

Sial! Jarakku masih terlalu jauh untuk mencapai pundaknya.

Sepertinya objek yang kutuju sama sekali tidak merespon perkataanku.

Tentu saja. Namja malaikat itu sama sekali tidak mengetahui bahwa aku berbicara padanya.

Hari semakin siang, kampus pun juga mulai ramai akan mahasiswa/siswi. Banyak orang yang mengahalangi jalanku untuk mengejar malaikat kecil’ku’.

“permisi!”

Seruku disela lari kecil yang berbentuk zig-zag agar tidak bersenggolan oleh orang banyak.

“Yaa!! Chankkaman!!”

Sembari membenarkan posisi ransel yang tergantung hanya pada satu bahuku yang mana posisinya miring dan hapir jatuh dari kaitan bahu kiriku, semakin kupercepat langkah kakiku.

Tanpa menyadari arah mana yang namja malaikat itu tuju mataku selalu alami mengikuti kemana namja malaikat itu pergi.

/TENG!!/

/TENG!!/

/TENG!!/

Jam besar kampusku berbunyi. Berarti tanda jam dimana akhirannya disertai dengan ...,00 sudah tiba. Dan berarti juga jam kampusku segera dimulai.

“Yaa!! Yaa!! Chankkaman!!!!”

Kali ini ku tinggikan nada ku agar tedengar sedirit keras.

/KRRIIINNNNGGG/

/KRRIIINNNNGGG/

Terdengar ponselku berdering dengan meriahnya.

“Yaa!!! Namja yang menggunakan baju putih!! CHANKKAMAN!!!”

Teriakku pecah di sepanjang lorong kampus ini masih disertai dengan ponsel ku yang masih berdering tidak kalah nyaring. Kuhiraukan si penelpon sekalipun itu dari orang tuaku, aku tidak peduli. Yang aku pedulikan hanya namja yang berada di depan ku walaupun masih lumayan jauh jaraknya.

/KRRIIINNNNGGG/

Spontan tubuhku berhenti untuk melangkah ke langkah selanjutnya.

/KRRIIINNNNGGG/

Berkat teriakanku kah?

Atau ada faktor lain?

/KRRIIINNNNGGG/

Namja malaikat itu berhenti melangkah!!!!

/KRRIIINNNNGGG/

Kukejar kembali dengan lari yang tidak telalu berat menuju malaikat kecil itu.

/KRRIIINNNNGGG/

Ketepuk bahu namja malaikat itu dan........

/KRRIIINNNNGGG/

/KRRIIINNNNGGG/

/KRRIIINNNNGGG/

/KRRIIINNNNGGG/

/KRRIIINNNNGGG/

#Kkumeul kkuneun georeum georeum geudaen namanei aremdaun nabi#

-TBC-

Notes:
-         Lagu yang diatas itu penggalan lagu EXO-K yang Don’t Go pada awal lagu mulai. Artinya “ Kecil kepakan sayapmu tampak seperti itu menuruhku mengitu mu”
Gaada sama sekali sama sangkut pautnya dengan lagy yang Chanyeol dengerin pas lagi nyantai di taman. Intinya lagu yang Chanyeol dengerin itu bukan lagu Don’t Go. Apaaasiiihh? Udah lahh semoga ngerti sama yang Author maksut.
-         Penggalan lagu kedua artinya “Seperti waltz, aku duduk ringan dan tidak bisa melepaskan pandanganku dari mu”
-         Penggalan lagu ketiga artinya “ Figur eleganmu. Oh! Aku jatuh untuk itu berkali-kali”
-         Penggalan lagu keempat artinya “Mataku alami mengikuti mu setiap kali kau berjalan”
-         Penggalan lagu terakhir artinya “Jalan ini bahwa aku bermimpi. Kau hanya kupu-kupu indah ku”

Huuufffttt 1.734 words (y).
Ehehe mikir dehh tuh yaa endingnya di chap ini. Ternyata itu adalahh sebuahhh............. xD semoga ngena dan ngeti :Dv

Dilanjuta atau engganya tergantung readers-nim ;)
It’s mean I have another story to complete this series. Comment yaa gimana di chap petama. Dan bilang mau dilanjut apa engga :D
Gamsahamnidaa ^^ *bow*


-@anisarista-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar