Title: Don't Go | One Night dream
Leight: multi chapter
Main Cast: BaekYeol, ChanBaek Couple
Genre: hhmmm...... Temukan sendiri ajaa. karna cerita ini belum di
planing dan keluar gitu aja saaat nulis ^^
Author: @anisarista
AUTHOR CUAP CUAP....
Haiii haaiii.... Ini ff kedua gue, hmm bisa dibilang pertama sihh
karna ff yang paling pertama /? ketauan sama otru dan ga diizinin buat dilanjut
dehh xD. Engga tau kenapa suka bbuuuaannggeettt sama lagu EXO yang Don't Go,
apa lagi yang Korean version. Beehhh suara Baekhyun bikin melted dibagian
dianya yang teriak /?
Akan diusaha kan ff ini mirip sama lagu Don't Go karna emang
niatnya mau ngikutin jalan cerita lagu ini walaupun ada yang sedikit di karang.
Kalo melenceng dari makna lagu aslinya maklumin aja yaa karna gue masi pemula
kakaaa ;;)
Okedehh langsung baca aja dari pada dengerin gue ngoceh melee aus
nanti. Jangan lupa comment kalo mau comment ;)
Disclaimer: sesungguhnya semua cast yang ada itu punya gue/? engga
engga, mereka punya Tuhan, orng tua mereka, dan mereka sendiri. ini cerita asli
dari otak gue dah dibantu dengan lagu Don't Go. kalo ada kemiripan dan
sebagainya itu cuma sebuah ketidak sengajaan :b.
WARNING: this story about boyxboy. Kalo geli gausah baca. Cast out
of the real character. And TYPO everywheree~
happy reading guyss....
^^One Night Dream^^
*Author pov*
Malam itu langit yang begitu kelabu memeluk bumi dengan sangat
dinginnya, ditambah lagi dengan air yang berlomba untuk mencapai tanah seperti
tidak mau kalah satu sama lain.
Dengan ditemani lampu yang indah menghiasi tengah kota yang tidak
pernah sepi setiap harinya, terlihat seorang pria jangkung menginjakkan aspal
yang menjadi kolam renang bagi makhluk kecil di bumi untuk mencapai
tujuannya........... Yaitu Rumah.
5 menit sudah pria jangkung itu mengijankkan aspal yang
mengantarnya hingga sampai yang Ia tuju.
Tidak telalu mewah atau pun terlalu kumuh, apartemen yang selama
ini Ia tempati adalah pemberian dari Eomma dan Appanya untuk melanjutkan
sekolahnya di salah satu Universitas yang lumayan terkenal di Korea. Ia telah
sampai di rumahnya.
Sudah hampir menginjak 3 tahun pria jangkung ini hidup mandiri
tanpa seorangpun yang menanti kepulangannya saat sampai rumahnya.
.
.
.
.
.
.
Disentuhnya knop pintu yang bertuliskan angka 05 itu dan mendorongnya
kearah dalam setelah memutarkan sebuah benda yang terbuat dari besi pada
ganggang pintu itu.
Terpampanglah apartemen atau biasa disebut dengan rumah yang tidak
terawat ini akan sangat cocok bila dimasukkan dalam nominasi sebagai Most Dirty Room karna
memang sama sekali tidak diuruskan oleh penghuninya yang selalu berangkat pagi
dan pulang malam demi ingin membanggakan orang tuanya melihat anak
kembanggaannya lulus dengan nilai yang memuaskan.
*skip*
Setelah selesai berbenah diri dari yang hujan telah berikan
kepadanya malam ini sehingga membuatnya berkuyup ria, pria jangkung itu membuka
knop pintu kamarnya dan menuju dapur untuk membuat menu makanan yang akan Ia
santap malam ini.
Ramyun. Yaa, benar, tiada hari tanpa ramyun. Hampir setiap hari
atau lebih tepatnya setiap hari dimalam hari pria itu mengkonsumsi ramyun untuk
menenangkan lambungnya yang meronta-ronta kelaparan karna pemenurutnya makanan
inilah yang paling praktis dibuat.
Sepeti kesehariannya yang monoton, pria jangkung itu membuang
bungkus bekas ramyun yang yang Ia buat pada tempat sampah yang telah menggunung
isinya setelah selesai merebusnya.
Ia membawa mangkuk berisi ramyun yang telah Ia buat tadi ke meja
makannya yang mungil dan segera memakannya.
Kurang dari 3 menit ramyunnya ludes seketika. Entah karna pria
jangkung itu kelaparan atau memang style makannya
yang cepat, makanannya bisa habis dalam waktu yang sangat singkat.
Walaupun terlihat seperti bad
guy karna malas merawat rumahnya sendiri, pria itu bisa dibilang cukup
rajin. Setelah makannya habis, langsung Ia cuci hingga mengkilat mangkuk yang
Ia pergunakan. Mungkin difikirnya lebih baik lelah sedikit untuk mencuci piring
dalam jumlah yang tidak banyak ketimbang bermalas-malas dahulu lalu merasakan
betapa lelahnya mencuci piringnya yang sudah menumpuk.
Setelah selesai dengan pekerjaannya mencuci piring, dilihatnya jam
dinding yang berada di dapurnya. Ternyata waktu sudah menunjukan pukul 9.13 PM
KST.
Hal yang nyaman langsung terpintas di otaknya. Bersantai-santai
diatas springbed dan
membungkus tubuhnya menggunakan selimut yang begitu hangat sangat lah pas bila
dilakukan pada saat cuaca seperti ini.
Tanpa berfikir apa lagi yang harus dia lakukan setelah kegiatannya
mencuci piring, Ia langsung berjalan menuju kamarnya dan merebahkan badannya
pada kasurnya yang tidak terlalu besar ukurannya namun sangat empuk dan nyaman.
Lampu dimatikan oleh Chanyeol dan mulai memasuki alam bawah
sadarnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Chanyeol pov*
{layaknya kehidupan nyata}
/KRRIIINNNNGGG/
/KRRIIINNNNGGG/
/KRRIIINNNNGGG/
Suara yang begitu gaduh masuk pada indra pendengaran ku yang
mungkin saja bisa membuat dia tidak berfungsi lagi.
Kududukan dengan malasnya tubuh ini dengan selimut yang masih
membungkus sebagian tubuhku.
"Sepertinya baru saja tidur. Mengapa hari ini pagi datang
cepat sekali? Menggangu kenikmatan orang saja!"
Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, aku berdiri dan
berjalan menuju kamar mandi mempersiapkan diri untuk pergi kekampus demi
menimba sebuah toeri baru yang belum ku ketahui.
Setelah rapih, aku menuju dapur dan membuat menu sarapan pagi
untuk mengisi perut yang kosong ini.
Se-simple-simplenya aku
membuat hidup ini, tidak ramyun juga aku gunakan untuk sarapan. Karna aku
manusia terpelajar, aku juga mengetahui ramyun kurang sehat untuk tubuh bila
dikonsumsi terus-menerus, apalagi bila dikonsumsi untuk sarapan pagi. Bisa-bisa
hari-hariku di kampus hanya terisi dengan rintihan merasakan perut yang sakit.
Rrrrrr~ menyeramkan. Aku lebih memilih roti panggang polos dan segelas susu
untuk setiap paginya aku konsumsi. Tidak menggunakan toping apa-apa karna
menurutku rasanya tidak jauh berbeda, hanya jauh berbeda dengan harga yang
diperoleh.
.
.
.
.
.
#Jeogeuman nalgaetjit neol hyanghan ikkeullim naege ttaraora sonjitan
geot gataseo#
Sesampainya dikampus, aku lebih memilih mendengarkan musik
kesukaanku bergenre pop-rock dengan
volume keras menggukan headphoneku di
taman yang kampusku miliki. Dibawah pohon yang rindang ditemani angin yang
begitu lembutnya memainkan anak rambutku begitu tenang rasanya. Sedikit
bersantai untuk menunggu jam kuliah yang akan di mulai pada pukul 10.00 AM KST.
/menengok jam tangan hitam yang melingkar ditangan kirinya dengan
indah/
Waktu masih menunjukan pukul 8.45 AM KST. Ada waktu sekitar sejam untuk bersantai di sini.
Aku memilih datang lebih awal karna menurutku menghabiskan waktu
diluar lebih indah dari pada memandangi televisi dengan berbagai acara yang
disuguhkan. Bisa dibilang kehidupanku pada saat di dalam dan di luar rumah
hampir berbeda 360 derajat. Tidak tahu mengapa pribadiku saat dirumah terlihat
lebih murung, sedangkan diluar rumah aku disebut sebagai Happy Virus karna sering menyebarkan kebahagian pada orang lain.
*setengah jam berlalu*
Kupejamkan mataku menikmati hembusan udara yang bergerak menabrak
halus pori-pori ku. Begitu sejuk udara pagi hari ini.
#Walcheucheoreom sappunhi anja neneul ttel su eobseo#
Disela menikmati segarnya udara pagi, mataku terbuka halus dan
tiba-tiba tebelak lebar layaknya meliat emas dengan berat 10 ton jatuh dari
langit. Entah mengapa lagu yang kuputar tidak terdengar oleh panca indra
pendengarku, dan pandanganku hanya tertuju pada seorang najma yang sedang duduk
membelakangiku.
#Neoneun ppomnae uahan jatae. O! Nan myeot beonigo banhago#
Tengkuknya yang indah, kulitnya yang terlihat seperti susu,
badannya yang mungil, rambutnya borgoyang seiring dengan nada angin yang
berhembus. Terlihat sepurna seperti malaikat yang dikirimkan oleh Tuhan untuk
menjaga kedamaian bumi ini mengenakan kemeja polos dan jeans serba putih.
‘Nugu?’ hanya satu pertanyaan yang terlontarkan dalam hati dan
selalu teulang oleh fikiranku.
#Siseoni jayeonseure georeummada neol ttaragajanha#
Dia bergerak pergi..........
‘Eotteokhae?!’
Haruskah aku mengikutinya?
Aku belum sempat menanyakan namanya. Mengingat aku belum pernah
melihatnya berkeliaran dikampus ini, jangan kan namanya, parasnya seperti apa
pun aku tidak mengetahuinya.
Dengan reflek aku bangkit mengikuti langkah namja malaikat itu
tempuh.
Tidak memikirkan dan memperhatikan keadaan setempat, tanpa menge-check apakah ada barang yang tertinggal
atau tidak, mataku hanya tertuju pada satu objek dan tidak akan ku lepaskan
pandanganku demi namja malaikat itu tetap berada pada jangkauan panca indraku.
Langkahku semakin cepat mengejar namja malaikat itu, hingga
akhirnya kurang dari 10 meter tempat kamu mengikkan diri satu sama lain.
“Chankkaman!!” ku ulurkan tangan kananku untuk meraik namja
malaikat itu sembari berlari ringan memintanya untuk berhenti.
Sial! Jarakku masih terlalu jauh untuk mencapai pundaknya.
Sepertinya objek yang kutuju sama sekali tidak merespon
perkataanku.
Tentu saja. Namja malaikat itu sama sekali tidak mengetahui bahwa
aku berbicara padanya.
Hari semakin siang, kampus pun juga mulai ramai akan
mahasiswa/siswi. Banyak orang yang mengahalangi jalanku untuk mengejar malaikat
kecil’ku’.
“permisi!”
Seruku disela lari kecil yang berbentuk zig-zag agar tidak bersenggolan oleh orang banyak.
“Yaa!! Chankkaman!!”
Sembari membenarkan posisi ransel yang tergantung hanya pada satu
bahuku yang mana posisinya miring dan hapir jatuh dari kaitan bahu kiriku,
semakin kupercepat langkah kakiku.
Tanpa menyadari arah mana yang namja malaikat itu tuju mataku
selalu alami mengikuti kemana namja malaikat itu pergi.
/TENG!!/
/TENG!!/
/TENG!!/
Jam besar kampusku berbunyi. Berarti tanda jam dimana akhirannya
disertai dengan ...,00 sudah tiba. Dan berarti juga jam kampusku segera dimulai.
“Yaa!! Yaa!! Chankkaman!!!!”
Kali ini ku tinggikan nada ku agar tedengar sedirit keras.
/KRRIIINNNNGGG/
/KRRIIINNNNGGG/
Terdengar ponselku berdering dengan meriahnya.
“Yaa!!! Namja yang menggunakan baju putih!! CHANKKAMAN!!!”
Teriakku pecah di sepanjang lorong kampus ini masih disertai
dengan ponsel ku yang masih berdering tidak kalah nyaring. Kuhiraukan si
penelpon sekalipun itu dari orang tuaku, aku tidak peduli. Yang aku pedulikan
hanya namja yang berada di depan ku walaupun masih lumayan jauh jaraknya.
/KRRIIINNNNGGG/
Spontan tubuhku berhenti untuk melangkah ke langkah selanjutnya.
/KRRIIINNNNGGG/
Berkat teriakanku kah?
Atau ada faktor lain?
/KRRIIINNNNGGG/
Namja malaikat itu berhenti melangkah!!!!
/KRRIIINNNNGGG/
Kukejar kembali dengan lari yang tidak telalu berat menuju
malaikat kecil itu.
/KRRIIINNNNGGG/
Ketepuk bahu namja malaikat itu dan........
/KRRIIINNNNGGG/
/KRRIIINNNNGGG/
/KRRIIINNNNGGG/
/KRRIIINNNNGGG/
/KRRIIINNNNGGG/
#Kkumeul kkuneun georeum georeum geudaen namanei aremdaun nabi#
-TBC-
Notes:
-
Lagu
yang diatas itu penggalan lagu EXO-K yang Don’t Go pada awal lagu mulai.
Artinya “ Kecil kepakan sayapmu tampak seperti itu menuruhku mengitu mu”
Gaada sama
sekali sama sangkut pautnya dengan lagy yang Chanyeol dengerin pas lagi nyantai
di taman. Intinya lagu yang Chanyeol dengerin itu bukan lagu Don’t Go.
Apaaasiiihh? Udah lahh semoga ngerti sama yang Author maksut.
-
Penggalan
lagu kedua artinya “Seperti waltz,
aku duduk ringan dan tidak bisa melepaskan pandanganku dari mu”
-
Penggalan
lagu ketiga artinya “ Figur eleganmu. Oh! Aku jatuh untuk itu berkali-kali”
-
Penggalan
lagu keempat artinya “Mataku alami mengikuti mu setiap kali kau berjalan”
-
Penggalan
lagu terakhir artinya “Jalan ini bahwa aku bermimpi. Kau hanya kupu-kupu indah
ku”
Huuufffttt 1.734 words (y).
Ehehe mikir dehh tuh yaa endingnya di chap ini. Ternyata itu adalahh
sebuahhh............. xD semoga ngena dan ngeti :Dv
Dilanjuta atau engganya tergantung readers-nim ;)
It’s mean I have another story to complete this series. Comment
yaa gimana di chap petama. Dan bilang mau dilanjut apa engga :D
Gamsahamnidaa ^^ *bow*
-@anisarista-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar